Dalam Shohih Muslim, dari Aisyah ra, "Bahwa Rasulullah SAW ketika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan Beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggangnya.
Gelisah sudah tamu agung ingin meninggalkan kita Sudahkah kita menjamunya, menemaninya, melakukan sesuatu yang istimewa saat bersamanya ...
Gelisah sudah tamu agung ingin meninggalkan kita Adakah penyesalan di hati saat sadar akan terjadi perpisahan Atau bahkan mengharap tanggungan beban ini cepat berlalu ...
Gelisah sudah tamu agung ingin meninggalkan kita Bagaimanakah shalat fardhu kita saat bersamanya?
Bagaimanakah puasa kita?
Bagaimanakah qiyam kita?
Bagaimanakah puasa kita?
Bagaimanakah qiyam kita?
Gelisah sudah tamu agung ingin meninggalkan kita Masihkah kita memanjakan mata, badan dan hati kita melewatkan malam yang penuh berkah ...
Gelisah sudah tamu agung ingin meninggalkan kita Masih banyak waktu didepan kita
untuk memanjakan anggota badan Relakah kita kehilangan kenikmatan abadi dari Ilahi
hanya untuk meraih kenikmatan dunia fana....
untuk memanjakan anggota badan Relakah kita kehilangan kenikmatan abadi dari Ilahi
hanya untuk meraih kenikmatan dunia fana....
Gelisah sudah tamu agung ingin meninggalkan kita Masih enggankah meluangkan hati, jiwa dan pikiran
untuk waktu yang tersisa ini ....
untuk waktu yang tersisa ini ....
Melepas kepergian tamu agung,
akankah ada kesempatan
mengulangi perjumpaan dengannya di masa mendatang
akankah ada kesempatan
mengulangi perjumpaan dengannya di masa mendatang
Telah datang bulan Ramadhan kepadamu, yang didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan memperoleh malam itu berarti telah diharamkan baginya segala kebaikan. Dan malam itu terbuka untuk siapa saja kecuali orang yang diharamkan untuk meraihnya.
Ada dua perkara yang dapat menghantarkan kesempurnaan ibadah puasa, Yaitu :
Pertama, menunaikan setiap amalan sholeh yang dikerjakan dengan sifat yang lebih sempurna dari amalan yang telah dikerjakan sebelumnya.
Kedua, meninggalkan segala macam hal yang tidak bermanfaat yang dapat mengurangi pahala puasa.
Jika salah satu sisi ini terabaikan, belumlah menjadi sempurna ibadah puasa kita
Adakah target yang lebih utama dari selain meraih ampunan dosa di saat-saat ini? Ataukah jiwa merasa suci, hingga tak perlu lagi memanfaatkan bulan suci?
Merugilah seorang yang datang kepadanya bulan Ramadhan kemudian setelah berlalu belum terampuni dosanya. (HR: Ahmad dan Tirmidzi).
Bersegeralah bersemangat, berlomba-lomba memperlihatkan amal-amal kebajikan kehadapan Allah.
Ya Allah tolonglah kami untuk berdzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.
Kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang dapat menghantarkan kepada cinta-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan, maka ampunilah kami.
Semoga sekeluarnya dari Kepompong Ramadhan, kita dan yang melihat kita, kagum menemukan jiwa yang telah berubah menjadi indah, seindah kupu-kupu yang sebelumnya adalah ulat yang menjijikan.
Ya Allah, berilah kami umur panjang, agar kami dapat bertemu dengan RAMADHAN lagi.
Ya Allah, jadikanlah ibadah yang kami kerjakan di dalam bulan Ramadhan mendapat nilai disisi-Mu. Amiiiinnn.
0 komentar:
Posting Komentar