Alhamdulillah, kita berada di bulan Ramadhan, ya mak…!
Ujar Ujang kepada ibunya yang sedang memilah-milah kardus bekas.
Bocah 9 tahun itu selalu antusias setiap bulan Ramadhan.
Baginya ramadhan adalah saat yang istimewa, selingan membahagiakan ditengah hari-harinya yang sulit.
Setiap hari bocah pemulung ini harus berjuang keras mengisi perutnya yang selalu keroncongan.
Dihari biasa, makan sehari sekali sudah merupakan kemewahan baginya.
Tapi di Ramadhan ini, nasibnya sedikit membaik. Dia bisa makan dua kali sehari- saat buka dan sahur – dengan nasi kotak berlauk ayam, daging atau ikan dari mushola atau masjid yang dilewatinya saat memulung..
Selain itu, jika dihari biasa dia harus bersusah payah menahan liur saat melihat orang lahap makan siang diwarung, dibulan puasa ini siksaan itu hilang. Karena sebagian besar orang berpuasa.
Selama Ramadhan, Ujang juga merasa tiba-tiba semua orang menjadi baik kepadanya. Tak terduga, dia sering mendapatkan kolak, kue-kue mahal, uang, pakaian bekas bahkan sarung dan baju koko baru dari seseorang.
“Seandainya setiap hari adalah Ramadhan, ya mak........!”
Ujang tak salah berharap, Ramadhan memang penuh berkah. Tak hanya bagi Ujang, tapi bagi kita semua.
Allah menjanjikan pahala berlipat ganda bagi setiap kebaikan yang dilakukan selama Ramadhan.
Dan kita, yang masih haus pahala, yang masih menghitung untung rugi, tiba-tiba menjadi lebih baik.
Berpuasa, Sholat berjamaah, Tarawih, membaca Alqur’an, lebih dermawan dan sebagainya. Kita lakukan untuk mendapatkan pahala dan hadiah dari Allah berupa ampunan dan pembebasan dari api neraka.
Amalan itu tentu saja sangat terpuji. Tapi, misalkan Allah tidak menjamin pahala yang berlimpah di bulan mulia itu,masihkah kita beramal baik? Haruskah kita menunggu ramadhan untuk menghilangkan rasa lapar si Ujang?
Allah berfirman dalam hadits Qudsi :
”Hai anak Adam, Aku minta makanan kepadamu, mengapa engkau tidak memberi makanan kepadaKU ?
”Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi makan kepadaMU, sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta ?
Allah berfirman, ”HambaKU lapar kenapa kau tidak memberinya makan ? Sesungguhnya seandainya engkau memberikan makanan kepadanya niscaya engkau menjumpaiKU.”
Ya Allah, ampunilah kami, kalau kami beramal hanya untuk kepentingan sendiri.
Ternyata kami masih lebih cinta diri kami sendiri dibandingkan dengan cinta kepadaMU.
Ya Allah, tanpa cinta dan rahmatMu sungguh kami adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri.
Wassalam