Tampilkan postingan dengan label Ukuwah Islamiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ukuwah Islamiyah. Tampilkan semua postingan

CintailahOrangMiskin

Sabtu, 30 April 2011

"Hai Musa, tahukah kamu betapa besarnya kasih sayangKu padamu?"
 "Engkau lebih penyayang kepadaku ketimbang ibuku."
 "Hai Musa, sesungguhnya ibumu menyayangi kamu karena anugerah kasih-Ku jua. Akulah yang melembutkan hatinya sehingga ia sayang padamu. Akulah yang membaikkan hatinya supaya ia meninggalkan kebaikan tidurnya untuk merawatmu. Sekiranya aku tidak melakukannya, maka akan samalah ibumu dengan perempuan lainnya di dunia."
 "Hai Musa, tahukah kamu bahwa ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang mempunyai dosa dan kesalahan yang begitu banyak sehingga memenuhi sudut-sudut langit. Tetapi aku tak hiraukan dosa-dosanya; semua aku ampuni."
 "Mengapa tidak Kau hiraukan, ya Rabb?"
 "Karena satu hal yang mulia yang Aku cintai dalam dirinya: Ia mencintai fakir miskin. Ia bergaul akrab dengan mereka. Ia menyamakan dirinya seperti mereka. Ia tidak sombong. Jika ada hambaku seperti dia, aku ampuni dia dan aku tidak hiraukan dosa-dosanya." (hadis qudsi)

MENZALIMI ORANG LAIN

Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering ke luar kota. Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh.

Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan anak-anaknya telantar dan mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaansahabatnya- mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat di sekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat “Sobat, aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”
Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit.”

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis disebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.
“Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?”
“Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi,” kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar ke mana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi.”
“Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja,” kata si sakit.
Demikian Andrie Wongso berkisah.


Kawan,
Kezaliman- apa pun bentuknya- yang telah kita lakukan terhadap seseorang, tidak cukup dengan penyesalan dan permintaan maaf saja. Buah dari kezaliman itu, tidak serta merta berakhir dengan permintaan maaf. Kepedihan yang timbul karenanya, melekat dalam waktu yang lama. Lagi pula, akibat dari perbuatan zalim kita itu, tidak hanya mengenai seorang kawan yang kita zalimi, melainkan juga, keluarganya turut menderita. Kita menanggung dosa orang banyak. Luka akibat kezaliman yang telah kita lakukan, telah merebak, menyebar ke pelbagai suasana. Penyebaran luka itu bagaikan kapas-kapas yang telah beterbangan. Sulit untuk recovery.

Kalau saja, kezaliman itu selesai dengan permohonan maaf, akan kacau balaulah hukum yang ada. Kembalikan dulu uang rakyat, baru minta maaf. Kembalikan dulu hak orang-orang yang berhak, baru minta maaf.

Lalu, kezaliman apa yang mungkin kita lakukan di tempat kerja?

Apabila seseorang, menurut kriteria umum, berhak atas suatu kondisi, tetapi kita tidak suka kepadanya karena alasan lain- yang sebenarnya tidak ada hubungan dengan pekerjaan, kita halangi orang itu mendapatkan haknya. Kita memilih orang lain- yang sesuai selera kita, karena ia teman sedesa atau kawan seagama, atau se- lainnya. Kalau kita lakukan itu, ketahuilah, kita telah berbuat zalim. Kita, tentu saja, akan berhadapan dengan hukum Allah. Orang yang kita zalimi, di akhirat kelak, akan menuntut haknya dan –tidak bisa tidak- kita harus membayarnya. Tidak bisa mengelak, sama sekali. Karena pada hari itu, mulut kita dikunci; sedang tangan berbicara dan kaki menjadi saksi. Semua yang kita lakukan semasa di dunia akan diproses verbal, seadil-adilnya: amal baik maupun buruk.

"Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) antara dia dengan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Jauh sebelum itu. Sebelum kiamat terjadi; sebelum mati menghampiri, Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, ”Ada dua dua dosa yang akan didahulukan Allah siksanya  di dunia ini juga, yaitu al-baghyu dan durhaka kepada orang tua.” (H.R. Turmudzi, Bukhari, dan Thabrani).

Al-baghyu  adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat zalim kepada orang lain. Kita tidak perlu khawatir bahwa “ganjaran” karena melakukan al-baghyu, akan disegerakan di dunia ini saja; karena di akhirat pun, kita tak akan luput dari “imbalan”-nya.

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman, "Dengan keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan datang. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya." (HR. Ahmad)
Seorang kiai bercerita bahwa ketika kita dalam pengadilan Allah, ditanyalah kita tentang apa-apa yang pernah kita perbuat selama di dunia. Setelah semua butir amal sudah selesai dirinci detail, seperti halnya uraian tugas atau manual; Allah tunjukan sebuah benda* yang sangat besar,” Ini adalah pahala besar milik kamu.” Orang itu merasa tidak melakukan amal yang hebat sehingga pahalanya demikian besar. Allah berfirman, ”Dahulu di dunia kamu dizalimi orang, tetapi kamu bersabar. Aku ganti kesabaranmu atas penzaliman orang itu dengan pahala ini.”
*Di akhirat kelak, amal-amal kita akan berwujud dan terlihat mata.

Di akhirat kelak, celakalah orang yang menzalimi. Bahagialah orang yang dizalimi!

Mengutamakan Memberi Bantuan

Imam Bukhari dan Muslim meriwa-yatkan bahwa suatu ketika ada seseorang datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Sesungguhnya saya sangat lapar!” Lalu, beliau membawa orang tersebut ke salah satu istrinya, dan istrinya berkata: “Demi Dzat yang mengutus tuan dengan kebenaran, saya tidak mempunyai sesuatu apapun kecuali air.”  
Kemudian beliau membawa orang tersebut ke istrinya yang lain, dan istrinya itu pun berkata seperti apa yang dikatakan oleh istri pertama tadi. Hal ini dilakukan beliau pada semua istrinya, namun semuanya menjawab: “Tidak, demi Dzat yang mengutus tuan dengan kebenaran, saya tidak mempunyai sesuatu apa pun kecuali air.” 
Setelah itu, beliau bersabda kepada para sahabatnya: “Siapa yang sanggup menjamu tamu pada malam ini ?” Ada salah seorang sahabat dari kalangan Anshar berkata: “Saya, wahai Rasulullah !” Kemu-dian orang itu pergi bersama sahabat tadi. Sesampainya di rumah, sahabat itu berkata kepada istrinya: ”Muliakanlah tamu Rasulullah!” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sahabat tadi bertanya kepada istrinya: “Apakah kamu mempu-nyai makanan ?” Istrinya menjawab: ”Tidak, kecuali makanan untuk anak-anak.” 
Sahabat itu berkata: ”Hiburlah mereka dengan sesuatu, dan bila mereka ingin makan maka tidurkanlah mereka. Bila tamu kita nanti masuk maka padam-kanlah lampu itu dan perlihatkanlah bahwa seakan-akan kita ikut makan.” Kemudian mereka duduk bersama dan tamu itu makan tetapi sahabat beserta istrinya bermalam dalam keadaan lapar. Pada pagi harinya, mereka bertemu dengan Nabi SAW, seraya Rasulullah SAW bersabda: “Allah telah kagum pada perbuatan kalian di dalam menjamu tamu semalam.”
Peristiwa di atas menggambarkan perilaku Rasulullah SAW (pada saat itu sebagai kepala negara) yang berupaya sekuat tenaga untuk memberikan bantuan kepada orang yang lapar. Tidak hanya sebatas ini, Nabi SAW meme-rintahkan kepada umatnya untuk mengutamakan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.  
Didikan Rasulullah SAW ini tampak jelas pada diri sahabat tadi, dia lebih mengutamakan orang lain yang lebih lapar dan lebih membutuhkan daripada dirinya. Padahal, keadaan ekonomi sahabat nabi tersebut sangat minim. Luar biasa, dalam keadaan sama-sama miskin saja begini, dapat dibayangkan bagai-mana andaikan status ekonomi dia menengah apalagi kaya raya.  
Bahkan di dalam Alquran dising-gung betapa sahabat-sahabat Anshar mengutamakan kawan-kawannya dari kalangan muhajirin walaupun merekapun berada dalam kesusahan. Karakter seperti ini bukan hanya melekat pada satu-dua orang saja melainkan tertanam dalam diri para sahabat Nabi SAW.  
Dalam menggambarkan hal ini Rasulullah SAW menyatakan: “Sesungguh-nya orang-orang Asy'ary bila persediaan mereka dalam peperangan hampir habis atau makanan bagi keluarga mereka di Madinah itu tinggal sedikit maka mereka mengumpulkan sisa-sisa yang ada pada mereka pada satu kain kemudian mereka membagi-baginya dengan sama rata pada satu bejana. Mereka adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kadangkala, ada orang yang bila memberikan sebagian hartanya kepada orang lain yang betul-betul membutuh-kannya merasa seakan dirinya takut kekurangan tanpa menyadari bahwa di dalam hartanya itu terdapat hak si miskin, seperti kata Nabi. Sikap demikian ditentang oleh Rasulullah SAW. Beliau menegaskan hal ini: “Makanan dua orang itu cukup bagi tiga orang, dan makanan tiga orang itu cukup bagi empat orang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim dari Jabir ra disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Makanan seorang itu cukup bagi dua orang, makanan dua orang itu cukup bagi empat orang, dan makanan empat orang itu cukup bagi delapan orang.”
Dalam kacamata logika manusia, boleh jadi barang-barang kebutuhan pokok yang diberikan kepada orang lain dianggap mengurangi jatah bagi pemenuhan kebutuhannya. Namun, pandangan Rasulullah SAW tidaklah demikian. Dalam menanggapi ungkapan beberapa sahabat yang menyatakan bahwa mereka makan tetapi tidak merasa kenyang, beliau mengungkapkan: “Mung-kin kalian makan sendiri-sendiri.” Sahabat menjawab: “Benar!” Beliau bersabda: “Maka berkumpullah kamu kalau makan, dan sebutlah nama Allah Ta'ala niscaya kamu sekalian mendapatkan barakah di dalam makananmu itu.” (HR. Abu Daud). Tampaklah, harta yang dimakan sendiri tanpa mempedulikan orang lain yang sangat membutuhkannya boleh jadi tidak berkah. Na'udzubillahi min dzalik.
Kini, sudahkah sikap indah tadi kita miliki sebagai umat Muhammad SAW? Tengoklah, pengemis makin menjamur, tuna wisma kian bertambah, pada sisi lain penggusuran pun tidak berhenti. Seba-gian orang hidup berlebihan, sementara banyak orang lain yang kesusahan. Padahal, kita akan ditanya oleh Allah SWT apakah kita membantu mereka. Ulurkan-lah tangan untuk memberi bantuan. Belumkah tiba saatnya kita menjadi orang-orang yang mengutamakan memberi bantuan?
Wassalam

ChatBox


ShoutMix chat widget

Arsive

Posts Recentes

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified