Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Usai Ramadhan dan Puasa Syawal

Sabtu, 30 April 2011

Bulan Ramadhan telah kita lewati, umat Islam seluruh dunia bersuka cita merayakan Idul Fitri seiring ucapan Taqabbala-llahu Minnaa Waminkum, 'Semoga Allah menerima (amaliyah Ramadhan) diriku dan dirimu." Meski jatuhnya hari raya berbeda-beda, namun perbedaan itu tidak mengurangi kemeriahan dan kebahagiaan menyambut hari yang fitri, hari di mana setiap orang bermaaf-maafan untuk kembali menjadi manusia yang bersih dan suci. Wallahualam...
Ada yang gembira dengan usainya bulan Ramadhan. Tapi ada juga yang sedih karena bulan mulia itu telah berlalu, seperti yang selalu dirasakan para sahabat Rasulullah di masa lalu. Sebagian besar dari kita mungkin tidak merasakan kesedihan itu, karena luapan rasa gembira merayakan Idul Fitri yang dinanti, yang oleh sebagian besar masyarakat Muslim diidentikan dengan "pesta" makanan lezat dan "pesta" belanja baju baru, sepatu baru, cat rumah baru dan sebagainnya yang mengarah pada sikap konsumtif. Sehingga kita luput merasakan nikmat bulan penuh berkah, bulan Ramadhan.
Yang kita rasakan mungkin rasa lega, karena setelah Ramadhan lewat, tidak perlu lagi menahan lapar dahaga, tak perlu lagi menahan emosi.
Para sahabat Rasulullah justeru merasa sedih dan cemas ketika Ramadhan usai karena mereka memahami dan menghayati betul apa nilai bulan Ramadhan. Bagi mereka, dengan usainya Ramadhan, maka tak ada lagi hari-hari istimewa yang penuh berkah di mana Allah swt melimpahkan rahmah, ampunan dan pahala berlipat ganda dibandingkan hari biasa. Tak ada lagi nuansa relijius yang pekat untuk lebih mendekatkan diri pada Allah swt. Mereka bersedihkarena belum tentu tahun depan, Allah swt berkenan mempertemukan mereka kembali dengan bulan Ramadhan.
Dengan usainya Ramadhan, para sahabat merasa cemas karena takut amalan-amalan Ramadhan mereka tidak sempurna sehingga mendapatkan penilaian rendah bahkan tidak diterima sama sekali oleh Allah swt. Padahal, belum tentu tahun depan mereka bisa merasakan lagi kemuliaan bulan suci Ramadhan.
Subhanallah, jika melihat orang-orang yang bertaqwa menyikapi berlalunya bulan Ramadhan. Di kelompok manakah kita berada, pernahkah terlintas, meski sedikit, di benak kita rasa sedih menjelang perpisahan dengan bulan Ramadhan dan komitmen apa yang kita buat usai Ramadhan? Jawaban itu tentu ada di hati kita masing-masing.
Bulan Ramadhan adalah bulan penempaan jasmani dan rohani. Idealnya, setelah mengalami penempaan sebulah penuh, kondisi jasmani dan rohani kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Yang sulit adalah bagaimana mempertahankan hasil tempaan yang terwujud dalam perilaku dan meningkatnya ketaqwaan pada Allah swt. Oleh sebab itu, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menyempurnakan Ramadhan mereka misalnya dengan berpuasa selama enam hari pascabulan Ramadhan, yang kita kenal dengan puasa syawal.
Sabda Rasulullah yang terkenal menyebutkan, "Barang siapa yang berpuasa selama bulan Ramadhan dan diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, hal itu layaknya berpuasa satu tahun lamanya. " (HR Muslim).
Alangkah beruntungnya jika kita benar-benar menghayati makna bulan Ramadhan. Meski Ramadhan bukan satu-satunya gerbang untuk berbuat kebajikan, namun kualitas ibadah Ramadhan kita menjadi penentu bagaimana kehidupan kita di sebelas bulan berikunya, lebih baikkah atau justru lebih buruk.
Begitu besarnya dampak bulan Ramadhan bagi kehidupan kaum Muslimin, sehingga justru ada yang sangat merindukan datangnya bulan Ramadhan dan berharap sepanjang tahun adalah Ramadhan.
Dan di sela-sela takbir dan tahmid menyambut Idul Fitri kemarin, bait-bait puisi Taufik Ismail yang dinyanyikan dalam bentuk lagu oleh Bimbo ikut menggema di relung hati...
Setiap habis Ramadhan, Hamba rindu lagi Ramadhan, Saat - saat padat beribadah Tak terhingga nilai mahalnya
Setiap habis Ramadhan, Hamba cemas kalau tak sampai Umur hamba di tahun depan Berilah hamba kesempatan
Setiap habis Ramadhan, Rindu hamba tak pernah menghilang Mohon tambah umur setahun lagi Berilah hamba kesempatan
Selamat jalan bulan yang suci, semoga Allah SWT berkenan mempertemukan kita kembali di tahun depan. Amiiiin.
Wassalam

SEBAB-SEBAB AMPUNAN DI BULAN RAMADHAN

Dalam bulan Ramadhan banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan. Di antara sebab-sebab itu adalah:

1.    Melakukan puasa di bulan ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu. "(Hadits Muttafaq 'Alaih)
2.    Melakukan shalat tarawih dan tahajiud di dalamnya.Rasulullah shallallahu 'alaihi ruasallam bersabda: "Barang siapa melakukan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. " (Hadits Muttafaq 'Alaih)
3.    Melakukan shalat dan ibadah lain di malam Lailatul Qadar. Yaitu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia adalah malam yang penuh berkah, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'anul Karim. Dan pada malam itu pula dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa melakukan shalat di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu . (Hadits Muttafaq 'Alaih)
4.    Memberi ifthar (makanan untuk berbuka) kepada orang yang berpuasa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang di dalamnya (bulan Ramadhan) memberi ifthar kepada orang berpuasa, niscaya hal itu menjadi sebab) ampunan dari dosa~osanya, dan pembebasan dirinya dari api Neraka. " (HR. Ibnu Khuzaimah (dan ia menshahihkan hadits ini), Al-Baihaqi dan lainnya).
5.    Beristighfar: Meminta ampunan serta berdo'a ketika dalam keadaan puasa, berbuka dan ketika makan sahur. Do'a orang puasa adalah mustajab (dikabulkan), baik ketika dalam keadaan puasa ataupun ketika berbuka Allah memerintahkan agar kita berdo'a dan Dia menjamin mengabulkannya. Allah berfirman: "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya untukmu . "(Ghaafir: 60),Dan dalam sebuah hadits disebutkan: "Ada tiga macam orang yang tidak ditolak do'anya. Di antaranya disebutkan,"orang yang berpuasa hingga ia berbuka" (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasaa'i dan Ibnu Majah). (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih mereka masing-masing, dan At-Tirmidzi mengatakannya hadits shahih hasan.) Karena itu, hendaknya setiap muslim memperbanyak, dzikir, do'a dan istighfar di setiap waktu, terutama pada bulan Ramadhan, ketika sedang berpuasa, berbuka dan ketika sahur, di saat turunnya Tuhan di akhir malam. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tuhan kami Yang Mahasuci dan Maha tinggi turun pada setiap malam ke langit dunia, (yaitu) ketika masih berlangsung sepertiga malam yang akhir seraya berfirman "Barangsiapa berdo'a kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuknya, barangsiapa memohon kepada-Ku, niscaya Aku memberinya dan barangsiapa memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. " (HR.Muslim).
6.    Di antara sebab-sebab ampunan yaitu istighfar (permohonan ampun) para malaikat untuk orang-orang berpuasa, sampai mereka berbuka. Demikian seperti disebutkan dalam hadits Abu Hurairah di muka, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Jika sebab-sebab ampunan di bulan Ramadhan demikian banyak, maka orang yang tidak mendapatkan ampunan di dalamnya adalah orang yang memiliki seburuk-buruk nasib. Kapan lagi ia mendapatkan ampunan jika ia tidak diampuni pada bulan ini? Kapan dikabulkannya (permohonan) orang yang ditolak pada saat Lailatul Qadar? Kapan baiknya orang yang tidak menjadi baik pada bulan Ramadhan ?

Dahulu, ketika datang bulan Ramadhan, umat Islam senantiasa berdo'a:
"Ya Allah, bulan Ramadhan telah menaungi kami dan telah hadir maka serahkanlah ia kepada kami dan serahkanlah kami kepadanya Karuniailah kami kemampuan untuk berpuasa dan shalat di dalamnya, karuniailah kami di dalamnya kesungguhan, semangat, kekuatan dan sikap rajin. Lain lindungilah kami didalamnya dari berbagal fitnah '

Mereka berdo'.kepada Allah selama enam bulan agar bisa mendapatkan Ramadhan, dan Selama enam bulan (berikutnya) mereka berdo'a agar puasanya diterima. Di antara, do'a mereka itu adalah: "Ya Allah serahkanlah aku kepada Ramadhan, dan serahkan Ramadhan kepadaku, dan Engkau menerimanya daripadaku dengan rela." (Lihat Lathaa'iful Ma'aarif, oleh Ibnu Rajab, him. 196-203.)

Adab Puasa:

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu-, bahwasanya puasa tidak sempurna kecuali dengan merealisasikan enam perkara:

1.    Menundukkan pandangan serta menahannya dari pandangan-pandangan liar yang tercela dan dibenci.
2.    Menjaga lisan dari berbicara tak karuan, menggunjing, mengadu domba dan dusta.
3.    Menjaga pendengaran dari mendengarkan setiap yang haram atau yang tercela.
4.    Menjaga anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa.
5.    Hendaknya tidak memperbanyak makan.
6.    Setelah berbuka, hendaknya hatinya antara takut dan harap. Sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima, sehingga ia termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah, ataukah ditolak, sehingga ia termasuk orang-orang yang dimurkai. Hal yang sama hendaknya ia lakukan pada setiap selesai melakukan ibadah. (Lihat Mau'idzatul Mukminiin min Ihyaa'i Uluumid Diin, hlm. 59-60.)

Ya Allah, jadikanlah kami dan segenap umat Islam termasuk orang yang puasa pada bulan ini, yang pahalanya sempurna, yang mendapatkan Lailatul Qadar, dan beruntung menerima hadiah dariMU; wahai Dzat Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan segenap sahabatnya.

Wassalam

ChatBox


ShoutMix chat widget

Arsive

Posts Recentes

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified