Semua yang dilakukan dalam setiap babak kehidupan sebaiknya dipahami sebagai sebuah upaya mendekatkan diri dengan Allah, sehingga hidup semakin terdidik dan terarah. Jika bisa terus seperti ini, hidup akan bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat. Orang sepintar apapun, yang sarat pengalaman hidup, yang berpengaruh, bahkan seorang kyai sekalipun dapat sesat, orang berkedudukan tinggi pun dapat sesat, sesat dalam menjalani hidup, dalam menafsirkan segala kejadian kehidupan. Disinilah pentingnya Al Quran. Nafkah, rumah tangga, jodoh, karir, dan sebagainya semuanya harus bersandar pada ajaran filosofi Al Quran. Semua pelajaran hidup, jika ditafsirkan dengan ajaran Al Quran akan bermakna filosofis, indah, tidak ada yang sia-sia, bahwa semua yang terjadi, entah itu baik atau buruk, menyenangkan atau menjengkelkan, semuanya terasa indah dan akan memberikan pelajaran yang sangat berharga jika dapat kita korelasikan dengan Al Quran.
Pada dasarnya kita sedang menempuh perjalanan, mulai dari kecil, mempunyai teman, mempunyai istri atau suami, menantu, cucu, dan sebagainya, semuanya merupakan jalan hidup yang mesti ditempuh. Ada salah seorang sufi yang mengatakan bahwa hidup manusia pada dasarnya menempuh dua perjalanan, yaitu safar qahri dan safar ikhtiyari. Safar qahri adalah jalan yang mau tidak mau manusia harus menempuhnya, misalnya dari kecil menjadi remaja, dewasa, tua dan pada akhirnya meninggalkan dunia. Sedangkan safar ikhtiyari adalah jalan hidup yang mana manusia diberikan kesempatan untuk memilih, misalnya memilih pekerjaan, tempat tinggal, dan sebagainya.
Perjalanan hidup ini harus dijalani dengan mengkaji dan sedikit demi sedikit mengamalkan filosofi hidup berdasar agama yang telah dipelajari dan diketahui. Satu upaya untuk semakin dekat dengan Allah. Manusia seharusnya selalu ingat bahwa Allah pernah mengikrarkan bahwa Dia dekat dengan hambanya, sepanjang sang hamba mau mendekat kepada-Nya. Allah berfirman dalam Al Baqarah ayat 186 yang artinya;
“Kalau hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhamad), katakanlah bahwa Aku dekat, Aku akan mengabulkan setiap permintaannya jika meminta kepada-Ku. Hendaklah mereka mengikuti seluruh perintah-Ku dan percaya sepenuhnya kepada-Ku.”
Kedekatan Allah pada manusia tergantung manusia. Kalau biasa melihat Allah dekat, maka Allah dekat, tetapi sebaliknya, jika biasa membelakangi dan mengacuhkan peringatan-peringatan-Nya, maka Allah terasa jauh baginya. Kedekatan manusia dengan Allah dapat dibangun dengan shalat yang baik, yaitu shalat yang dilakukan secara khusyuk dan nyambung dengan Allah. Istilah shalat dalam bahasa arab dekat dengan kata shilah yang artinya menyambung. Artinya, shalat adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Allah, supaya kedekatan dapat tercapai. Setelah kedekatan tergapai, maka hidayah Allah, kasih sayang Allah, yang selalu diberikan sepanjang hidup dapat terasakan. Wahyu Allah kepada manusia sesungguhnya tidak pernah berhenti, seperti ilham, intuisi, kecakapan hidup, tambahnya kearifan dan sebagainya. Hanya saja, ia hanya mampu ditangkap oleh orang yang memiliki kelembutan hati dan kebeningan jiwa. Bagi orang yang membelakangi, tidak mau tahu petunjuk Allah, maka Allah terasa jauh baginya dan terasa jauh dari bimbingan-Nya.
Salah satu cara untuk dapat shalat dengan baik adalah dengan memahami arti yang dibaca. Misalnya ketika bertakbir “Allahu Akbar”, bisa dibayangkan bahwa Allah begitu besar dan kita hanya kecil. Segala yang ada didunia ini kecil dihadapan Allah. Disamping dengan memahami arti, kekhusyukan juga dapat dilatih secara terus menerus.
Surat Al Baqarah 186 diatas, selain mengandung pengertian bahwa Allah begitu dekat dengan hamba-Nya, Allah juga berjanji akan mengabulkan setiap apa yang diminta hambanya. Namun demikian, ada syarat-syarat dan sikap yang harus dibangun terlebih dulu. Pertama, apa yang diminta adalah sesuatu yang sedang diusahakan, seperti doa untuk menjadi orang pandai akan bermakna ketika ia sedang belajar. Kedua, apa yang diminta sesuai dengan potensi yang dimiliki, misalnya minta menjadi menteri padahal baca tulis saja tidak bisa. Doa seperti ini adalah mustahil terkabulkan. Ketiga, perlu ada keyakinan bahwa jika Allah belum mengabulkan doa yang diminta setelah syarat-syarat terpenuhi, mungkin doa itu akan dikabulkan kelak dikemudian hari. Bisa jadi apa yang diminta sekarang justru diberikan Allah kepada anak cucu kita karena beberapa alasan yang tidak mungkin dibeberkan kepada kita. Jika pun dikemudian hari kita belum medapatkan apa yang diminta, setidaknya kita telah beruntung dengan berdoa kepada Allah, karena dengan berdoa berarti kita telah mendekat kepada-Nya. Tidak ada doa yang sia-sia dihadapan Allah. Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Allah sangat gembira kepada orang yang merintih mendekat kepada-Nya”.
Terusan dari ayat diatas, dapat dipahami sebagai syarat doa mustajab dihadapan Allah, yaitu mengikuti perintah-Nya dan percaya sepenuhnya kepada Allah. Tidak logis ketika kita tidak pernah taat kepada perintahnya kemudia berharap mengabulkan apa yang diminta. Selain itu, kita harus percaya sepenuhnya bahwa Allah mampu mengabulkan apa yang diminta. Sebuah hadis mengatakan bahwa Allah dekat pada prasangka hambanya. Kalau seorang mukmin menyangka Allah dekat, maka Allah akan terasa dekat. Ia yakin Allah akan mengabulkan, maka Allah akan mengabulkan. Dengan cara demikian, maka doa itu akan memimpin kita kearah jalan yang benar. Doanya akan menjadi motivasi untuk berbuat sesuai apa yang diminta dan sesuai anjurannya. Inilah sebenarnya kekuatan doa.
Satu hal lain yang perlu diambil dalam menyikapi janji dari Allah untuk mengabulkan permintaan setiap hambanya adalah membuat diri kita pantas untuk dikabulkan. Pertanyaan-pertanyaan korektif dapat dimunculkan, misalnya pantaskah kita menjadi orang kaya kalau kinerja kita rendah? Pantaskah meminta orang pandai kalau malas belajar? Pantaskah menginginkan pasangan yang cantik dan alim kalau kita sendiri hidupnya tidak karuan? Dalam usaha membuat diri kita pantas inilah terselip salah satu makna manusia sebagai seorang khalifah, yaitu kemampuan manusia untuk mengubah dirinya sendiri. Binatang tidak dapat mengubah dirinya sendiri, sepanjang hidupnya ia memiliki perilaku yang selalu sama.
Kemudian, selain mensifati diri-Nya dekat dengan hambanya, Allah juga berjanji akan menimpakan azab kepada kaum-Nya yang membangkang, tetapi rahmat-Nya masih jauh lebih besar dari murka-Nya. Allah berfirman dalam surat Al A’raf: 156:
“Azab-Ku akan menimpa siapapun yang aku kehendaki, tetapi rahmat-Ku mencakup segala sesuatu, rahmat itu akan Aku tetapkan bagi orang-orang yang bertaqwa, dan orang yang mengeluarkan zakat, juga bagi orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”.
Bumi dan seluruh isinya adalah rahmat yang digelar Allah untuk umat manusia. Semuanya begitu melimpah sehingga tidak mampu dihitung dan ditimbang. Sesuatu yang tidak menyenangkan dirasakan manusia, terkadang terselip rahmat dari-Nya, misalnya, ketika sakit, didalamnya terkadang terdapat rahmat dan cintanya bagi yang mau memikirkan. Oleh karena itu sangat indah sebuah kata bijak, “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Kegagalan akan bermakna demikian ketika kegagalan diikuti dengan sikap mengambil nasehat, kemudian memperbaiki diri, bukan dengan sumpah serapah, menyalahkan diri sendiri dan orang lain.
Ada sebuah hadis Nabi, yang mana Rosul pernah bersabda pada para sahabat: “Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya”. Kemudian ada sahabat yang bertanya “Apakah termasuk engkau ya Rosul?” “Ya, termasuk aku”.
Hadis ini memberikan pengertian bahwa ditempatkannya manusia kelak di surga adalah semata-mata karena keluasan rahmat-Nya. Amal yang dilakukan manusia, sungguhpun banyaknya, tidak dapat menandingi rahmat yang diberikan Allah dalam kehidupan ini. Contoh sederhana, harga jari, alis, bulu mata yang tak pernah disapa, tak pernah disadari. Seluruh nikmat yang diberikan, termasuk rasa sayang, cinta, sedih, marah, semuanya tidak sebanding dengan ibadah dan pengabdian kita kepada Allah.
Rahmat Allah yang terbentang luas ini seharusnya mendorong manusia untuk selalu mensyukuri nikmat, karena syukur akan selalu menguntungkan manusia. Salah satu cara untuk mensyukurinya adalah dengan menggunakan nikmat itu dengan proporsional dan profesional, meletakkan nikmat pada proporsi yang diberikan. Dengan mensyukuri rahmat Allah hidup ini menjadi indah. Hidup ini sesungguhnya indah, simfoni yang menyenangkan, tak perlu kita tempatkan seperti masuk dalam penjara dan seperti harus kerja paksa. Berparadigmalah dengan benar, maka akan kita dapatkan satu kesimpulan, bahwa hidup ini adalah rahmat, dan rahmat adalah cinta.
Pada dasarnya kita sedang menempuh perjalanan, mulai dari kecil, mempunyai teman, mempunyai istri atau suami, menantu, cucu, dan sebagainya, semuanya merupakan jalan hidup yang mesti ditempuh. Ada salah seorang sufi yang mengatakan bahwa hidup manusia pada dasarnya menempuh dua perjalanan, yaitu safar qahri dan safar ikhtiyari. Safar qahri adalah jalan yang mau tidak mau manusia harus menempuhnya, misalnya dari kecil menjadi remaja, dewasa, tua dan pada akhirnya meninggalkan dunia. Sedangkan safar ikhtiyari adalah jalan hidup yang mana manusia diberikan kesempatan untuk memilih, misalnya memilih pekerjaan, tempat tinggal, dan sebagainya.
Perjalanan hidup ini harus dijalani dengan mengkaji dan sedikit demi sedikit mengamalkan filosofi hidup berdasar agama yang telah dipelajari dan diketahui. Satu upaya untuk semakin dekat dengan Allah. Manusia seharusnya selalu ingat bahwa Allah pernah mengikrarkan bahwa Dia dekat dengan hambanya, sepanjang sang hamba mau mendekat kepada-Nya. Allah berfirman dalam Al Baqarah ayat 186 yang artinya;
“Kalau hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhamad), katakanlah bahwa Aku dekat, Aku akan mengabulkan setiap permintaannya jika meminta kepada-Ku. Hendaklah mereka mengikuti seluruh perintah-Ku dan percaya sepenuhnya kepada-Ku.”
Kedekatan Allah pada manusia tergantung manusia. Kalau biasa melihat Allah dekat, maka Allah dekat, tetapi sebaliknya, jika biasa membelakangi dan mengacuhkan peringatan-peringatan-Nya, maka Allah terasa jauh baginya. Kedekatan manusia dengan Allah dapat dibangun dengan shalat yang baik, yaitu shalat yang dilakukan secara khusyuk dan nyambung dengan Allah. Istilah shalat dalam bahasa arab dekat dengan kata shilah yang artinya menyambung. Artinya, shalat adalah sarana untuk menghubungkan diri dengan Allah, supaya kedekatan dapat tercapai. Setelah kedekatan tergapai, maka hidayah Allah, kasih sayang Allah, yang selalu diberikan sepanjang hidup dapat terasakan. Wahyu Allah kepada manusia sesungguhnya tidak pernah berhenti, seperti ilham, intuisi, kecakapan hidup, tambahnya kearifan dan sebagainya. Hanya saja, ia hanya mampu ditangkap oleh orang yang memiliki kelembutan hati dan kebeningan jiwa. Bagi orang yang membelakangi, tidak mau tahu petunjuk Allah, maka Allah terasa jauh baginya dan terasa jauh dari bimbingan-Nya.
Salah satu cara untuk dapat shalat dengan baik adalah dengan memahami arti yang dibaca. Misalnya ketika bertakbir “Allahu Akbar”, bisa dibayangkan bahwa Allah begitu besar dan kita hanya kecil. Segala yang ada didunia ini kecil dihadapan Allah. Disamping dengan memahami arti, kekhusyukan juga dapat dilatih secara terus menerus.
Surat Al Baqarah 186 diatas, selain mengandung pengertian bahwa Allah begitu dekat dengan hamba-Nya, Allah juga berjanji akan mengabulkan setiap apa yang diminta hambanya. Namun demikian, ada syarat-syarat dan sikap yang harus dibangun terlebih dulu. Pertama, apa yang diminta adalah sesuatu yang sedang diusahakan, seperti doa untuk menjadi orang pandai akan bermakna ketika ia sedang belajar. Kedua, apa yang diminta sesuai dengan potensi yang dimiliki, misalnya minta menjadi menteri padahal baca tulis saja tidak bisa. Doa seperti ini adalah mustahil terkabulkan. Ketiga, perlu ada keyakinan bahwa jika Allah belum mengabulkan doa yang diminta setelah syarat-syarat terpenuhi, mungkin doa itu akan dikabulkan kelak dikemudian hari. Bisa jadi apa yang diminta sekarang justru diberikan Allah kepada anak cucu kita karena beberapa alasan yang tidak mungkin dibeberkan kepada kita. Jika pun dikemudian hari kita belum medapatkan apa yang diminta, setidaknya kita telah beruntung dengan berdoa kepada Allah, karena dengan berdoa berarti kita telah mendekat kepada-Nya. Tidak ada doa yang sia-sia dihadapan Allah. Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Allah sangat gembira kepada orang yang merintih mendekat kepada-Nya”.
Terusan dari ayat diatas, dapat dipahami sebagai syarat doa mustajab dihadapan Allah, yaitu mengikuti perintah-Nya dan percaya sepenuhnya kepada Allah. Tidak logis ketika kita tidak pernah taat kepada perintahnya kemudia berharap mengabulkan apa yang diminta. Selain itu, kita harus percaya sepenuhnya bahwa Allah mampu mengabulkan apa yang diminta. Sebuah hadis mengatakan bahwa Allah dekat pada prasangka hambanya. Kalau seorang mukmin menyangka Allah dekat, maka Allah akan terasa dekat. Ia yakin Allah akan mengabulkan, maka Allah akan mengabulkan. Dengan cara demikian, maka doa itu akan memimpin kita kearah jalan yang benar. Doanya akan menjadi motivasi untuk berbuat sesuai apa yang diminta dan sesuai anjurannya. Inilah sebenarnya kekuatan doa.
Satu hal lain yang perlu diambil dalam menyikapi janji dari Allah untuk mengabulkan permintaan setiap hambanya adalah membuat diri kita pantas untuk dikabulkan. Pertanyaan-pertanyaan korektif dapat dimunculkan, misalnya pantaskah kita menjadi orang kaya kalau kinerja kita rendah? Pantaskah meminta orang pandai kalau malas belajar? Pantaskah menginginkan pasangan yang cantik dan alim kalau kita sendiri hidupnya tidak karuan? Dalam usaha membuat diri kita pantas inilah terselip salah satu makna manusia sebagai seorang khalifah, yaitu kemampuan manusia untuk mengubah dirinya sendiri. Binatang tidak dapat mengubah dirinya sendiri, sepanjang hidupnya ia memiliki perilaku yang selalu sama.
Kemudian, selain mensifati diri-Nya dekat dengan hambanya, Allah juga berjanji akan menimpakan azab kepada kaum-Nya yang membangkang, tetapi rahmat-Nya masih jauh lebih besar dari murka-Nya. Allah berfirman dalam surat Al A’raf: 156:
“Azab-Ku akan menimpa siapapun yang aku kehendaki, tetapi rahmat-Ku mencakup segala sesuatu, rahmat itu akan Aku tetapkan bagi orang-orang yang bertaqwa, dan orang yang mengeluarkan zakat, juga bagi orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”.
Bumi dan seluruh isinya adalah rahmat yang digelar Allah untuk umat manusia. Semuanya begitu melimpah sehingga tidak mampu dihitung dan ditimbang. Sesuatu yang tidak menyenangkan dirasakan manusia, terkadang terselip rahmat dari-Nya, misalnya, ketika sakit, didalamnya terkadang terdapat rahmat dan cintanya bagi yang mau memikirkan. Oleh karena itu sangat indah sebuah kata bijak, “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Kegagalan akan bermakna demikian ketika kegagalan diikuti dengan sikap mengambil nasehat, kemudian memperbaiki diri, bukan dengan sumpah serapah, menyalahkan diri sendiri dan orang lain.
Ada sebuah hadis Nabi, yang mana Rosul pernah bersabda pada para sahabat: “Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya”. Kemudian ada sahabat yang bertanya “Apakah termasuk engkau ya Rosul?” “Ya, termasuk aku”.
Hadis ini memberikan pengertian bahwa ditempatkannya manusia kelak di surga adalah semata-mata karena keluasan rahmat-Nya. Amal yang dilakukan manusia, sungguhpun banyaknya, tidak dapat menandingi rahmat yang diberikan Allah dalam kehidupan ini. Contoh sederhana, harga jari, alis, bulu mata yang tak pernah disapa, tak pernah disadari. Seluruh nikmat yang diberikan, termasuk rasa sayang, cinta, sedih, marah, semuanya tidak sebanding dengan ibadah dan pengabdian kita kepada Allah.
Rahmat Allah yang terbentang luas ini seharusnya mendorong manusia untuk selalu mensyukuri nikmat, karena syukur akan selalu menguntungkan manusia. Salah satu cara untuk mensyukurinya adalah dengan menggunakan nikmat itu dengan proporsional dan profesional, meletakkan nikmat pada proporsi yang diberikan. Dengan mensyukuri rahmat Allah hidup ini menjadi indah. Hidup ini sesungguhnya indah, simfoni yang menyenangkan, tak perlu kita tempatkan seperti masuk dalam penjara dan seperti harus kerja paksa. Berparadigmalah dengan benar, maka akan kita dapatkan satu kesimpulan, bahwa hidup ini adalah rahmat, dan rahmat adalah cinta.
Wassalam
0 komentar:
Posting Komentar